Langsung ke konten utama

Makrolinguistik (Ranah, menganalisis: teks dan wacana, interaksi dalam percakapan, komponen percakapan)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Kajian bahasa terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Salah satu kajian yang tidak dapat terlepas dari bahasa adalah kajian linguistik. Kajian linguistik dalam sebuah bahasa tidak hanya melingkupi linguistik dari sudut pandang internal semata, tetapi juga dapat dikaitkan dengan linguistik secara umum. Linguistik secara makro dalam hal ini bukan dikaitkan dengan disiplin ilmu lain di luar linguistik, melainkan sebuah kajian linguistik yang menelaah tuturan berdasarkan situasi.
Memahami sebuah kata tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sebuah situasi atau konteks yang mengikutinya. Selama manusia masih berkomunikasi menggunakan bahasa, maka selama itu pula linguistik makro memainkan perannya dalam sebuah konteks komunikasi. Tuturan, dalam linguistik makro tidak hanya tuturan yang terjadi dalam percakapan beserta komponennya, tetapi lebih daripada itu. linguistik makro juga sebuah kajian yang mencakup gramatikal dan leksikal dalam sebuah wacana. Selain itu, juga melihat bagaimana  karakteristik tekstual, tipologi teks, dan teks terjemahan dipandang dari sisi analisis kontrastif pada beberapa bahasa yang memiliki kemiripan bahkan perbedaan.
Makalah berikut ini akan membahas tentang perbandingan kajian linguistik secara makro. Kajian difokuskan pada situasi yang terjadi pada sebuah tuturan, baik dalam bentuk teks maupun dalam bentuk percakapan. Analisis kontrastif makrolinguistik ini juga membandingkan antara situasi yang terjadi pada sebuah bahasa tertentu, dengan bahasa yang lainnya. Kajian secara rinci mengenai pembahasan dan cara penggunaan dalam makrolingistik akan dibahasa satu per satu dalam makalah ini.  

1.2.         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, rumusan masalah yang dapat disusun adalah.
1.            Bagaimana pengertian makrolinguistik?
2.            Apa saja ranah dalam makrolinguistik?
3.            Bagaimana menganalisis teks dengan sarana leksikal dan gramatikal?
4.            Bagaimana analisis teks kontrastif secara karakteristik tekstual, tipologi teks, dan teks terjemahan?
5.            Bagaimana menganalisis wacana?
6.            Bagaimana interaksi dalam percakapan?
7.            Apa saja komponen percakapan?

1.3.         Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut.
1.            Mengetahui pengertian makrolinguistik.
2.            Mengetahui ranah dalam makrolinguistik.
3.            Menganalisis teks dengan sarana leksikal dan gramatikal.
4.            Menganalisis teks kontrastif secara karakteristik tekstual, tipologi teks, dan teks terjemahan.
5.            Mengetahui cara untuk menganalisis wacana?
6.            Mengetahui interaksi dalam percakapan?
7.            Mengetahui komponen percakapan?











BAB II
PEMBAHASAN

Sistem formal suatu bahasa yang diberikan oleh beberapa linguistik ada beberapa istilah. Saussure menyebutkan “langue”, Chomsky menyebutkan “competence”, James menyebutkan “mikro-linguistik” atau “code-linguistics”, istilah umum untuk pengertian ini adalah “language” atau “bahasa”. Untuk memperoleh jalan masuk menuju kode atau sandi suatu bahasa, maka kita perlu untuk mengabaikan beberapa hal yang mencampuri urusan bahasa. Faktor-faktor yang merumitkan ini disebut Lyon dalam Tarigan (1989: 148) sebagai “idealisasi data” atau idealization of data”. Dia mengemukakan tiga cara untuk meng-idealisasi-kan data dalam linguistik, yakni.
a.            Regularisasi
Regularisasi ini disebut juga ujaran spontan, walaupun yang dihasilkan oleh para penutur asli rasional suatu bahasa, penuh dengan permulaan-permulaan yang salah, keragu-raguan, konstruksi-konstruksi campuran, dan sebagainya. Chomsky dalam Tarigan (1989: 149) menandai hal-hal seperti itu sebagai “kondisi-kondisi yang tidak relevan secara gramatikal seperti pembatasan-pembatasan ingatan, kebingungan-kebingungan, gangguan-gangguan, perubahan-perubahan perhatian dan minat”.

b.            Standardisasi
Terdapat dua pengertian yang dapat digunakan para linguis untuk membakukan data mereka. Yang pertama adalah “pengertian harfiah” bermakna pemilihan dialek baku buat pemerian. Dan yang kedua adalah standardisasi harus ada kaitannya dengan homogenitas data: selama tugas pemerian bahasa akan dirumitkan oleh berbagai hal, maka para informan harus dipilih dari orang-orang yang menggunakan ragam baku yang sama.

c.            Dekontekstualisasi
“Alam-raya wacana” tradisional atau bidang penelitian bagi linguistik tradisional adalah kalimat tunggal terpisah dari bahasa yang diperikan. Hal ini dianggap benar bagi para pakar stuktural dan juga bagi pakar tata bahasa transformasi yang berikutnya, yang dalam tata bahasa mereka itu ∑ (simbol “kalimat”) merupakan simbol yang berulang-ulang dipakai. Suatu kalimat dapat didekontekstualisasikan dengan dua cara, yaitu dengan menggeserkan dari rombongan kalimat-kalimat yang mendahului atau yang mengikutinya dalam satu teks (yaitu konteks-nya), atau dengan cara memisahkannya dari situasi dunia nyata tempatnya dipakai (yaitu konteks situasinya) .

2.1.         Pengertian Makrolinguistik
Secara singkat dapat dikatakan bahwa “makrolinguistik adalah sejenis linguistik yang bertugas menelaan atau mengkaji “tuturan berdasarkan situasi” atau dengan istilah “situated speech” Coulthrad dalam Tarigan (1989: 149). Yngve dalam Tarigan (1989: 149)) menyebutkan makrolinguistik sebagai linguistik “besar” atau linguistik “manusia” yang bertujuan untuk mencapai suatu pengertian ilmiah mengenai bagaimana (cara) insane-insan manusia berkomunikasi”. Hal ini sebaiknya dibandingkan dengan tujuan linguistik sandi (“code linguistics”) untuk menetapkan ciri-ciri umum dan ciri-ciri khusus bahasa-bahasa manusia. Ber-antitesis dengan kompetensi atau “competence” Chomsky, maka Hymes dalam Tarigan (1989: 150) mengemukakan dengan tegas bahwa kompetensi komunikatif seorang pembicara haruslah merupakan objek penelitian bahasa. 
Selama manusia berkomunikasi melalui bahasa, maka linguistik sandari dapat perhatian utama dalam setiap langkah proses itu. Namun, bukan berarti bahasa itu sendiri yang berkomunikasi, dan pengetahuan mengenai sandi atau kode itu bukanlah sebuah kondisi yang memuaskan bagi prestasi komunikasi, tetapi pengetahuan seperti itu, merupakan suatu kondisi yang perlu, selama tidak akan dapat terjadi komunikasi verbal/ lisan tanpa kode atau sandi.
Satu kata yang dapat mencakup seluruh aspek yang bersifat non-sandi atau non-kode tersebut adalah “sensitivity”, kepekaan dan kehalusan perasaan: pribadi yang berkomunikasi haruslah mampu mengenali kendala-kendala situasi tepat peristiwa-peristiwa tuturan bersubjek serta menghasilkan ucapan-ucapan yang sesuai dan serasi dengan mereka. Kendala-kendala ini merupakan variabel-variabel sosio-kultural yang sebagian turut menentukan bentuk ucapan-ucapan yang berhasil. Hymes dalam Tarigan (1989: 151) memperkenalkan enam variabel dalam menggolongkan setiap peristiwa tuturan tertentu.
a.            Latar (setting), merupakan waktu dan tempat tuturan tersebut menentukan bentuknya, jadi pertanyaan yang diajukan pada seorang dosen di kantin sesudah selesai kuliah akan berbeda dari pertanyaan yang diajukan di kelas pada saat berlangsungnya kuliah.  
b.            Partisipan (participants), terdiri atas addressor (pengarah), speaker (pembicara), addressee (penerima alamat), dan audience (pendengar atau pemirsa). Berbicara kepada seorang pimpinan akan berbeda dengan berbicara kepada karyawan biasa.
c.            Maksud (pupose). Setiap tindak tutur mempunyai suatu maksud. Seperti yang ditunjukkan oleh Laver, bahkan (“phatic communion” Malinoroski pun adalah jauh dari “tidak bertujuan” “tidak bermaksu”. Beberapa waktu terakhir ini banyak sekali perhatian ditujukan pada maksud-maksud atau “fungsi-fungsi komunikatif” bahasa, sebaik para pakar linguistik terapan mencoba menciptakan atau menyusun silabus-silabus nasional. beberapa maksud atau tujuan nyata tidak luntur adalah persuasi, menyuruh, menyarankan, menyapa, dan lain sebainya. Harus disadari bahwa tindak tutur seperti persuasi mungkin saja mencakup beberapa kalimat, tetapi masih merupakan satu tindak tutur.
d.            Kunci (key). Istilah ini digunakan untuk menyatakan nada, cara atau semangat/ jiwa tempat tindak tutur itu dilakukan. Jadi nasihat dapat diberikan dengan cara yang akrab atau dengan cara yang kasar. Misalnya “sebaiknya kalian menabung sedikit demi sedikit buat hari tua” dengan “kalau kalian tidak berhemat rasakan nanti akibatnya di hari tua”.
e.            Isi (content). Merupakan apa yang dibicarakan – topik pembicaraan – turut menentukan pemilihan bahasa. Misalnya seseorang berbicara mengenai kosakata ilmu pengetahuan. Dalam beberapa masyarakat, topik-topik tertentu adalah tabu, misalnya masalah seks.
f.             Saluran (channel). Ada dua saluran utama bagi komunikasi verbal, yaitu tuturan atau tulisan. Kita sama-sama mengetahui bahwa bentuk bahasa lisan berbeda dengan bentuk bahasa tulis, bentuk bahasa tuturan berbeda dengan bentuk bahasa tulisan.
Dari keenam variabel tersebut dapat disederhanakan menjadi rangkaian berikut
siapa berkata/ mengatakan apa kepada siapa,
di mana dan apabila, bagaimana dan mengapa

2.2.         Ranah Makrolinguistik
Berdasarkan dari pembahasan sebelumnya, muncul beberapa ciri pada makrolinguistik, antara lain.
a.            Perhatian yang lebih cenderung kepada kompetensi komunikatif dibandingkan kompetensi linguistik dalam pengertian Chomsky
b.            Adanya upaya memerikan peristiwa-peristiwa linguistik di dalam latar-latar ekstra-linguistik mereka.
c.            Pencarian unit-unit organisasi linguistik yang lebih besar daripada kalimat tunggal
Pada umumnya, perluasan cakupan itu mempunyai tujuan ganda, yaitu
a.            Secara vertikal untuk memperbesar unit-unit linguistik
b.            Secara horizontal untuk memasukkan latar-latar sosial-budaya atau sosio-kultural dalam linguistik
Perluasan cakupan ini dapat dicapai dengan dua cara, yakni:
a.            pertama, pada tingkat formal dan tertuju pada masalah bagaimana caranya kalimat-kalimat disusun menjadi unit-unit supra-kalimat yang lebih besar atau teks-teks; dan
b.            kedua, yang merupakan sesuatu yang sangat fungsional serta memandang pada cara-cara orang menggunakan bahasa, inilah yang merupakan bidang analisis wacana atau discourse analysis.
Kedua istilah, analisis teks dan analisis wacana tersebut kadang-kadang memang membingungkan. Ada yang menyarankan bahwa analisis teks mengacu kepada tradisi Eropa, dan analisis wacana pada tradisi Anglo-Amerika untuk melakukan hal yang sama. Pendekatan lain ialah melihat keduanya sebagai yang saling melengkapi; analisis wacana mulai dengan krangka luaran sitausi-situasi dan beranjak ke dalam batin untuk menemukan variabel-variabel linguistik formal yang berkorelasi dengan variabel-variabel situasional; sedangkan analisis teks mulai dengan bentuk-bentuk linguistik dan mempertanyakan dalam konteks-konteks yang serasi. `
Perbedaan tersebut sejalan dengan yang dibuat oleh Widdowson antara usage dan use. Usage berhubungan dengan ketatbahasaan kalimat-kalimat dan merupakan bagian penring dari pembelajaran bahasa asing, terutama dalam melibatkan pemerolehan kemampuan menyusun kalimat-kalimat yang benar. Walaupun penting, kemampuan seperti itu tidak mencukupi untuk melengkapi pembelajar untuk berkomunikasi dalam bahasa asing, tetapi pembelajar pun perlu mengetahui kalimat-kalimat mana yang sesuai konteks tertentu. Kaidah-kaidah mengenai use perlu diperoleh dan dipahami, bergitu juga dengan usage. Kalimat yang baik dapat sesuai dengan konteks dalam dua cara:
a.            sesuai secara formal, yakni tidak melanggar aturan-aturan organisasi tekstual
b.            sesuai secara fungsional, yakni mengomunikasikan apa yang dimaksud oleh pembicara.
Atau sebaliknya, suatu kalimat pun dapat pula tidak sesuai secara formal dan secara fungsional. Ketidakcocokan formal terhadap konteks linguistik (yaitu cotex dan koteks) mengakibatkan teks yang tidak-kohesif, sedangkan ketidakcocokan secara fungsional akan mengakibatkan gangguan dalam komunikasi, yaitu pada incoherence (pembicara yang ngawur). Misalnya:
A         : Siapa yang mmenyiram bunga itu?
B1       : Yang dilakukan Ani adalah menyiram bunga itu.
B2       : Ada hantu di bawah pohon beringin itu.
Sebagai jawaban terhadap pertanyaan A, maka terlihat bahwa B1 dan B2 masing-masing tidak kohesif dan tidak koherensif. Pertalian (atau koherensi) antara A dan B2 tidak ada hubungan antara A dan B1 kurang kohesif. 

2.3.         Analisis Teks
Sebuah teks semata-mata bukan merupakan urutan acak kalimat-kalimat yang berkaitan-isi. Dalam teks, kalimat-kalimat terlihat dalam suatu susunan yang rapi, dan terdapat saran-sarana formal yang menandai hakikat nyata hubungan-hubungan yang terjalin antara urutan-urutan kalimat. Sarana-sarana tersebut dapat berupa sarana gramatikal, sarana leksila, atau dalam ujaran dapat ditambah dengan sarana internasional.
Khusus bagi anakon, kita perlu mengidentifikasi konstan-konstan dan variabel-variabel, dan harus diingat bahwa justru sarana-sarana formal inilah yang berbeda dari bahasa ke bahasa, sedangkan hubungan-hubungan yang mungkin terdapat antara kalimat-kalimat mungkin sekali bersifat universal. Oleh karena itu, hubungan antar-kalimat akan bertindak sebagai “tertium comparatoris

2.3.1        Sarana Leksikal
              Yang terpenting di antara sarana kohesif leksikal adalah hubungan-hubungan sinonim yang merupakan wadah tempat masuk butir-butir leksikal dalam kalimat. Sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain; kesamaan itu berlaku bagi kata, kelompok kata atau kalimat, walaupun umumnya yang dianggap sinonim hanyalah kata-kata saja. Sinonim adalah kata-kata yang mempunyai denotasi yang sama tetapi berbeda dalam konotasi. Misalnya:
a.               Mati, meningga dunia, berpulang ke Rahmatullah, mangkat, wafat, mampus.
b.               Cantik, molek, indah, permai, bagus.
c.               Bodoh, tolol, dungu, goblok, otaku dang         
Hiponim adalah hubungan dalam semantic antara makna spesifik dan makna generic, atau antara anggota taksonomi dan nama taksonomi; misalnya, antara kucing, anjing, dan kambing di satu pihak dan hewan di pihak lain. kucing, anjing, dan kambing disebut hiponimdari hewan. Hewan disebut superordinat dari kucing, anjing, dan kambing, sedangkan kucing, anjing dan kambing disebut kohiponim. Misalnya dalam bentuk bahasa Inggris yang campur-aduk:
a.               He will give you the name of one or two suitable doctors.
b.               Should there be any hitch, ask to speak to the physician in chief.
c.               If you need a doctor for your child in a strange town, find the name of the best hospital
d.               The physician in chief will in all probability not be a children’s specialist.
e.               Telephone and ask for the name of a pediatrician on the staff.
Teks yang campur aduk tentu saja tidak koherensif, selama gagasan yang terlihat dlaam suatu susunan tidak berkorespondensi dengan urutan peristiwa dunia-maya alamiah. Justru pengetahuan seperti inilah yang membuat pembaca mengatakan bahwa teks di atas itu campur aduk dan kacau. Agar kohesi baik, urutan kelimat kalimat tersebut seharusnya adalah sebagai berikut.
a.               If you need a doctor for your child in a strange town, find the name of the best hospital
b.               Telephone and ask for the name of a pediatrician on the staff.
c.               Should there be any hitch, ask to speak to the physician in-chief.
d.               The physician-in-chief will in all probability not be a children’s specialist
e.               He will give you the name of one or two suitable doctors.
Ekspresi-ekspresi antara pediatrician, children’s specialist, dan doctor for your child merupakan sinonim-dekat. Hal ini menandakan bahwa ktiganya tidak bebas dipertukarkan satu sama lain dalam segala konteks. Penggunaan ketiganya dalam kalimat tersebut menganyam suatu benang untuk mengikatkan ketiganya bersama-sama, bahkan di tempat mereka bukan merupakan kesinambungan dalam teks tersebut.

2.3.2        Sarana Gramatikal
Halliday dan Hasan dalam Tarigan (1989: 158) membuat ulasan yang panjang lebar di dalam mengenai bahasa Inggris, dan memperkenalkan adanya empat sarana gramatikal utama, yaitu.
1.               Referensi. Bahasa dapat mengacu atau membuat referensi/ acuan dengan dua cara. Kalau saya mengatakan “rumah sata” atau “mobil Anda”, maka saya mengacu kepada beberapa entitas atau kesatuan lahir di dunia nyara: acuan dunia nyata disebut referensi eksoforik, dan memainkan peranan sekunder dalam organisasi tekstual. Tetapi dengan bantuan bahasa, hal tadi pun dapat pula mengacu kepada potongan bahasa yang lain: ini, yang merupakan acuan-dalam-teks, disebut referensi endoforik. Misalnya,
              Salmon tidak suka jengkol. Dia menghindarinya selalu.
“Salmon” dan “jengkol” adalah dua nomina dengan referensi eksoforik, sedangkan “dia” dan “-nya” mempunyai referensi endoforik: kedua-duanya masing-masing mengacu kepada “Salmon” dan “jengkol” dalam konteks itu, dan tidak secara langsung mengacu kepada entitas dunia nyata. Hal inilah yang menyebabkan kata-kata seperti itu secara tradisional digolongkan sebagai pronomina.
2.               Substitusi. Proses atau hasil penggantian unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsure pembeda atau menjelaskan suatu struktur tertentu. Misalnya senang dengan sering dalam kalimat berikut.
              Mereka senang bergurau
              Mereka sering bergurau
3.               Elipsis. Peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa. Efek ellipsis adalah “menciptakan kohesi dengan jalan meninggalkan apa yang dapat diambil alih dari wacana yang mendahuluinya. Misalnya perbandingan di antara dua kalimat berikut.
(i)               Pernahkah Anda pergi ke Danau Toba?
    (Saya) tidak pernah (pergi ke Danau Toba).
(ii)             Karena saya tidak mau (menyembelih ayam itu), maka
terpaksalah dia menyembelih ayam itu.
4.               Komparasi. Komparasi tidak selalu berada di dalam satu kalimat, walaupun barangkali cara inilah yang paling ekonomis dan paling eksplisit untuk menyatakan perbandingan, seperti pada
              John lebih muda daripada Fries.
Komparasi dapat pula dilakukan melampaui batas-batas kalimat, seperti pada contoh berikut.
(i)               Umurnya sudah lebih 70 tahun. Saya baru 60
(ii)             Ada 5 orang pemuda berkumpul. Rizal yang paling kecil
Kedua pasangan kalimat di atas tidak dihubungkan dengan cara yang sama. Pada (i) tidak ada pernyataan mengenai komparasi, tidak menggunakan suatu morfem komparatif: komparasi telah tersirat di dalamnya, dan kita harus berupaya menghubungkan kedua kalimat itu di dalam hati. Para (ii) terdapat penanda komparasi paling namun di sini pun kita harus dapat memahami kalimat kedua yang sebenarnya berbentuk:
              Rizal yang paling kecil (dari kelimat orang pemuda yang berkumpul itu)
5.               Struktur Paralel. Kalimat-kalimat dalam urutannya biasa memperlihatkan berbagai ragam struktur: tentu saja, dalam upaya melatih para remaja menulis karangan, pra guru menekankan betapa perlunya membuat berbagai ragam pola kalimat yang tersusun rapi. Namun, penulis yang telah berpengalaman kadang-kadang memutarbalikkan maxim of variety atau ”peribahasa”keberagaman” itu dan menggabungkan dua atau tiga kalimat dengan struktur paralel; dan efek cara ini adalah mengikat kalimat-kalimat bersama-sama secara konseptual, sehingga semua itu terbaca sebagai satu entitas (kesatuan lahir) teks yang kohesif. Biasanya para penyair menggunakan cara ini, bahkan dianggap sebagai suatu konvensi politik pula. Misalnya.
(i)               Pernahkah kau lihat pacarku terbang tanpa sayap?
Pernahkah kau lihat kekasihku menjalar tanpa kaki?
(ii)             Karyaku kalian kagumi. Wajahku kalian benci.
  Pada contoh (i) kita mempunyai suatu urutan dari dua pertanyaan retoris yang tidak menuntut jawaban, tetapi tantangan-tantangan justru diekspresikan dengan struktur-struktur interogatif. Walaupun dalam kenyaaan sang pembicara atau penulis mengajukan dua kalimat seperti itu, sama sekali tidak berarti bahwa dia mengajukan dua tantangan: justru satu tangan; dan kedua struktur itu harus dibaca sebagai reiterasi fungsional: identitas mereka justru memperkuat kesatuan fungsional mereka.
Pada contoh (ii) kedua kalimat itu memperlihatkan kerengkatan/ pemberangkatan yang sama dari susunan kata yang normal dalam bahasa Indonesia: kedua-duanya berstruktur S-P. karena kedua kalimat itu harus dibaca sebagai yang kontrastif, maka kita dapat saja menambahkan konjungsi kontrastif “tetapi” atau “akan tetapi” untuk menghubungkan kedua kalimat tersebut, tetapi penghubungan ini sebenarnya telah tersirat dalam keparalelan struktur kedua kalimat itu sendiri. di sinilah terlihat dengan jelas perbedaan bahasa puisi dan bahasa biasa. Misalnya.
a.               Dia tersenyum. Hatinya menangis.
b.               Memang dia tersenyum, tapi hatinya menangis.  
2.4.         Analisis Teks Kontrastif
Pembicaraan pada bagian-bagian terdahulu sebenarnya telah membawa kita masuk ke dalam daerah-daerah Anakon tekstual. Oleh karena itu, maka ada baiknya kita kini memikirkan bagaimana cara mendekati Anakon tekstual ini. Cari James (1986 : 113) menyarankan adanya tiga pendekatan yang dapat dimanfaatkan, yaitu karakterisasi tekstual, tipe teks, dan teks-teks tejemahan (“translated texts”).

2.4.1 Karakterisasi Tekstual
Istilah karakterisasi tekstual ini mengacu kepada koleksi data mengenai preferensi/pilihan yang diprlihatkan oleh setiap pasangan bahasa bagi penggunaan sarana-sarana tertentu buat mencapai kohesi tekstual. Dalam pembicaraan terdahulu dalam bab ini kita telah membicarakan contoh sarana-sarana tekstual yang dipakai dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Contoh teks dalam bahasa Arab dan Indonesia :
Teks bahasa Arab:
(i)            مارأيت شيطانا قط
(ii)           
Teks bahasa Indonesia:
(i)            Saya tidak pernah melihat syaiton sama sekali
(ii)          Suatu hari Jahidhz sedang berdiri di depan rumahnya. Lalu lewatlah seorang perempuan cantik di dekatnya, seraya tersenyum padanya dan berkata: " Aku ada perlu denganmu".
Apa keperluanmu?, kata Jahidhz.
Perempuan itu berkata: Aku ingin kamu pergi bersamaku.
Kemana ? Tanya jahidhz
Perempuan itu berkata :"(sudahlah) ikuti aku tanpa (banyak) tanya !
Lalu Jahidhzpun mengikuti perempuan itu sampai keduanya sampai di toko penjual perhiasan. Di tempat itu perempuan tadi berkata kepada tukang perhiasan:" Seperti itu !! lalu iapun pergi.
Ketika itu Jahidz bertanya kepada tukang perhiasaan maksud perkataan perempuan tadi.
Tukang perhiasanpun berkata: .. mohon maaf tuan, wanita itu pernah datang kemari membawa sebuah cincin dan memintaku untuk melukisinya dengan gambar Syaitan. Lalu aku katakan kepadanya bahwa seumur hidupku aku sama sekali belum pernah melihat Syaitan. Makanya dia sekarang datang dengan membawamu karena menyangka bahwa engkau mirip Syaitan.
Newsham mengatakan bahwa (i) tema setiap kalimat akan dirangkaikan dengan tema atau rema beberapa kalimat lain, dan (ii) setiap paragraph menurut definisi, berpusat disekitar satu tema asli, beliau juga menemukan bahwa 4 tipe pemolaan selalu berulang dalam datanya, berikut pola-polanya :
a)            Hubungan tema-tema berikutnya pada tema pertama :
T1-R1            Cats eat rats
T1-R2             Cats sleep a lot
T1-R3             Cats chase their tails
b)            Hubungan tema-tema berikutnya pada rema pertama :
T1-r1               Cats eats rats
     TR1-R2                 Rats live in holes
     TR1-R3                 Rats are bigger than mice
     TR1-R4                 Rats are hard to catch
c)            Hubungan tema-tema berikutnya pada rema-rema pertama (atau berikutnya) :
T1-R1                         Cats eat rats
                        T2-R1                         Dogs eat rats
            T3-R1                         Snake ats rats
d)            Hubungan tema-tema berikutnya secara langsung dengan tema yang mendahuluinya :
T1-R1                         Cats eat rats
     TR1-R2                    Rats live in holes
          TR2-R3                              Their holes are usually in old buildings
              TR3-R4                             These old buildings are deserted

2.4.2 Tipologi Teks           
Walaupun kebudayaan-kebudyaan yang didukung oleh berbagai bahasa mungkin sekali sangat berbeda, toh biasanya kita akan mampu menentukan tipe-tipe dalam berbagai bahasa yang kira-kira menampilkan fungsi yang sama. Dalam pengertian para etnografer, melalui konsentrasi mereka pada tipe-tipe teks ritualistic atau disebut artistic ritual, seremonial secara verbal, dan penggunaan tuturan secara khusus dan tertentu, cenderung memilih yang khas sebagai bahan analisis mereka.
Reiss menyarankan akan adanya tiga tipe teks, yaitu penekanan teks berdasarkan isi, bentuk atau daya tarik. Sedangkan Nida membedakan mengenai fungsi teks yaitu sebagai fungsi ekspresif, informative dan imperatif teks, serta menambahkan bahwa sang pembaca kerap kali secara total percaya pada konteks untuk menentukan bagaimana caranya menginterpretasikan suatu teks tertentu. Dalam satu paragraph kita bisa saja menemukan sejumlah kalimat yang sama yang menampilkan masing-masing dari ketiga fungsi tersebut. Walaupun mungkin saja benar bahwa setiap teks secara predominan akan bersifat informative, ekspresif atau apelatif.

2.4.3 Teks Terjemahan
Sudah jelas bahwa teks terjemahan merupakan dasar nyata bagi Anakon tekstual. Keterbatasan pokok teks terjemahan ini adalah potensialnya bagi penyimpangan terjemahan, yaitu teks bahasa sasaran dapat memperlihatkan tanda-tanda interferensi dari bahasa sumber. Selama sang penerjemah harus diberi jalan masuk menuju yang orisinil, maka tidak ada cara untuk mencegahnya dari pemindahan ciri-ciri teksturnya ke penerjemahan bahasa sasarannya. Kalau melakukan hal ini,maka versi bahasa sasaran tidak otentik, yaitu tidak merupakan teks yang disusun secara orisinil seperti yang terlihat dalam bahasa tersebut. Akan tetapi pada saat yang sama kita pun tidak akan dapat melarang penerjemah menggunakan ciri-ciri gramatikal dan leksikal tertentu di dalam versi bahasa sasaran hanya karena semua itu terdapat dalam teks bahasa sumber itu : semua itu mungkin sama otentiknya di dalam kedua versi tersebut.
Dalam masyarakat dwibahasa kita seringkali melihat teks-teks yang berpasangan, dalam bentuk tanda-tanda lalu lintas, selebaran-selebaran resmi, maklumat/pengumuman pers, pemberitahuan, dsb. Semua itu secara ideal haruslah merupakan teks-teks yang dipersamakan, yaitu secara mandiri menghasilkan teks-teks bahasa A dan bahasa B yang secara fungsional disamakan.

2.5.         Analisis Wacana
Menandakan pendekatan telaah bahasa sebagai wacana berarti memberi penekanan pada fungsinya. Ini berarti bahwa pertanyaan yang diajukan mengenai setiap bagian atau segmen bahasa tertentu bukanlah melulu mengenai bentuk tetapi juga mengenai penggunaan/pemakaiannya: apa yang ingin dicapai oleh pembicara (atau penulis), apa sebenarnya yang diperolehnya dengan bagian bahasa yang khas?
Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan melalui bahasa, yaitu:
a.            Membuat pernyataan-pernyataan
b.            Mengeluarkan perintah-perintah
c.            Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Secara tradisional para penulis bahan pengajaran bahasa asing telah melihat ketiga fungsi tersebut sebagai dasar, seperti yang diamati oleh Wilkins (1976), maka pernyataan atau laporan mendapat perhatian khusus dengan mengorbankan perintah dan pertanyaan.
Kalau kita melakukan hal-hal melalui bahasa maka kita melakukan apa yang disebut oleh Austin (1962) sebagai tindak tutur atau speech acts. Jumlah tindak tutur yang dilakukan rata-rata individu setiap hari, saat bekerja, dan saat senggang membuat dia berhubungan dengan orang lain, barangkali mencapai ribuan. Beberapa tindak tutur yang banyak digunakan adalah bertanya, menolak, memuji, memerikan, memaafkan, menjelaskan, sedangkan yang jaang adalah menaruh simpati, menyalahkan, memfitnah.
Kalaulah kohesi tekstual selalu ditandai secara jelas dengan berbagai cara, maka fungsi-fungsi tindak tutur dapat ditandai dengan cara tertentu atau secara implisit saja. Perhatikanlah penampilan tindak tutur menyarankan yang dapat direalisasikan dengan dua cara seperti berikut:
(i)                 Saya menyarankan Anda berobat ke Puskesmas.
(ii)               Saya akan berobat ke Puskesmas kalau menjadi Anda.
Pada (i) tindak tutur itu ditandai secara leksikal, sedangkan pada (ii) ditandai secara tersirat. Jadi jelas, memang ada penanda wacana atau discourse markers yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis tindak tutur itu.
Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengklasifikasikan penanda wacana ini. Winter (1971) memperkenalkan lima kategori connectives yang paling sering digunakan dalam teks-teks ilmiah bahasa Inggris, yaitu:
a.            Logical sequence: thus, therefore, then, thence, consequently, so...
b.            Contrast: however, in fact, conversly...
c.            Doubt and Certainly: probably, possibly, indubitably...
d.            Non-Contrast: moreover, likewise, similary...
e.            Expansion: for example, in particular...
Kata-kata penghubung atau connectives itu berfungsi untuk menyatakan kepada pembaca (atau penyimak) jenis-jenis hubungan logis yang dirasakan oleh penulis (atau pembicara) ada di antara urutan-urutan ucapan atau batas-batas ucapan di dalam suatu teks.
Kaplan (1972) mengemukakan bahwa para penutur bahasa Inggris memperlihatkan adanya enam fungsi retoris, yaitu: definition, classification, comparison, contrast, analysis, synthesis. Penjelasan-penjelasan Kaplan berdasarkan kenyataan bahwa para penutur suatu bahasa adalah para pemakai seperangkat sarana retoris yang distingtif. Suatu penjelasan alternatif dan lebih luas mengenai mengapa para penutur bahasa yang sama memproses wacana berbagai cara yang menjamin intellegibillity atau keterpahaman bahwa mereka menggunakan konvensi-konvensi untuk merangkaikan peristiwa-peristiwa bahasa dengan konteks. Penelitian atau kajian terhadap bagaimana caranya bahasa dan konteks dihubungkan untuk mencapai interpretasi dikenal sebagai pragmatik atau pragmalinguistik.
Stalnaker (1972) menyejajarkan pragmatik dengan cabang-cabang linguistik lainnya: sintaksis menelaah kalimat, semantik menelaah proporsi, pragmatik menelaah tindak linguistik dan konteks tempatnya ditampilkan. Pengertian konteks memang amat luas karena mencakup, antara lain maksud dan tujuan pembicara, pengetahuan, keyakinan, harapan, atau perhatian pembicara dan penyimaknya, tindak tutur lain yang ditampilkan dalam konteks yang sama, waktu tuturan, dan nilai kebenaran gagasan yang dilontarkan. Komunikasi akan berhasil apabila antara pembicara dan penyimak terdapat keserasian atau kecocokan antara hal-hal yang disebutkan sebelumnya. Bila terjadi demikian maka mereka berada dalam suatu kelompok yang padu oleh Yngve (1975) disebut colingual community yang dibatasinya sebagai sekelompok individu-individu yang dapat berkomunikasi satu sama lain dengan cara tertentu yang merupakan karakteristik kelompok tersebut.
Labov (1972) membedakan tiga tipe peristiwa tempat ujaran atau tuturan mengacu:
(a)          Peristiwa-peristiwa A                       :berkaitan dengan pembicara/penulis sekarang ini
(b)          Peristiwa-peristiwa B                       : yang berkaitan dengan penyimak/pembaca
(c)          Peristiwa-peristiwa AB        : yang dianggap secara umum berkaitan dengan pembicara/penulis dan penyimak/pembaca
Labov menunjukkan bahwa berbagai interpretasi dibuat terhadap suatu ucapan tergantung pada pandangan terhadap hal itu yang dibuat oleh penyimak/pembaca yang mengacu pada peristiw A, B, atau AB. Jadi, kalau pembicara/penulis membuat suatu pernyataan mengenai peristiwa B, maka penyimak/pembaca mendengar/membacanya sebagai suatu permintaan buat penegasan, yang mengimplikasikan sesuatu berupa “Saya mengira bahwa saya benar untuk meyakini bahwa:
Pembicara/penulis  : Anda orang Bandung.
Penyimak/pembaca : Ya/Tidak/Benar, dsb.
Perlu dicatat bahan pembicara/penulis mengharapkan suatu jawaban afirmatif dari penyimak/pembaca dan penyimak/pembaca mengetahui hal itu. Oleh karena itu, kalau penyimak/pembaca ingin mengoreksi pembicara/penulis maka dia cenderung berbuat demikian dengan suatu cara yang disebut otoritatif. Dalam hal ini suatu konvensi sosiolinguistik telah berlangsung: B beranggapan bahwa pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh A dalam kehadiran B haruslah mengarah pada otoritas B.
Memang dalam pembicaraan mengenai wacana, presupposition atau persangkaan merupakan suatu unsur penting dan sehubungan ini tidak kurang pentingnya adalah kaidah-kaidah interpretasi yang harus diterapkan oleh penyimak/pembaca terhadap ucapan-ucapan agar dapat mengenali tindak-tindak tutur yang diembannya. Berikut ini kaidahnya:
B percaya bahwa A yakin bahwa:
1)            X perlu dilakukan untuk tujuan/maksud Y
2)            B mempunyai kemampuan melakukan X
3)            B mempunyai kewajiban melakukan X
4)            A mempunyai hak menyuruh B melakukan X
Prakondisi ini muncul dalam hampir hampir semua /setiga kaidah interpretasi dan produksi yang ingin dicapai dalam kaitannya dengan perintah-perintah atau suruhan-suruhan (Labov 1972).
Widdowson (1975) memanfaatkan kerangka kerja Labov ini dalam dua cara yang sangat menarik bagi pakar kontrastif. Dia mendaftarkan tidak kurang dari 17 cara penerapan perintah dalam bahasa Inggris.
a.            Pembicara dapat mengacu secara langsu pada keempat kondisi
1)            Jendela itu perlu dibersihkan.
2)            Kamu bisa membersihkan jendela itu.
3)            Kamu harus membersihkan jendela itu.
4)             Saya memiliki wewenang untuk menyuruhmu membersihkan jendela itu.
b.            Pembicara dapat mengacu secara tidak langsung pada keempat kondisi itu. Kondisi ini digunakan untuk petunjuk/isyarat/gambaran, sindiran, ironi, dan metafora.
A : Ayo pergi ke ke bioskop malam ini.
B : Saya harus belajar untuk ujian.
Contohnya:
5)            Seseorang lupa membersihkan jendela ini.
c.            Pembicara dapat menarik perhatian keempat kondisi dengan menggunakan kalimat interogatif secara langsung
Contohnya:
6)            Apakah kamu sudah  membersihkan jendela?
d.            Pembicara mengacu secara tidak langsung menggunakan kalimat interogatif.
Contohnya:
7)            Apakah kamu senang tinggal di ruangan dengan jendela yang kotor?
e.            Menggunakan kalimat imperatif untuk menyatakan perintah
Contohnya:
Bersihkan jendela itu!

2.6.         Interaksi Percakapan
Sampai sebegitu jauh kita beranggapan bahwa komunikasi bersifat unilateral, dalam pengertian bahasa di dalamnya terdapat satu orang pembicara/penulis, satu orang penyimak/pembaca, dan satu arah arus informasi. Akan tetapi, ternyata komunikasi kerapkali bersifat dua arah dan dyadic –justru inilah yang menjadi ciri percakapan atau konversasi. Rilly (1978) sebenarnya memberi ciri pada wacana sebagai yang melibatkan bukan satu tetapi dua urutan tindak simultan: urutan tindak-tindak ilokusi dan urutan tindak-tindak interaktif. Urutan tindak-tindak ilokusi khususnya terdiri dari tindak-tindak seperti mengundang, menyetujui, mengucap terima kasih, meminta maaf, dsb., sedangkan urutan tindak-tindak interaktif terdiri dari tindak-tindak semacam membuka, menutup, memilih pembicara berikutnya, dsb.
Karya-karya mutakhir dalam dalam analisis percakapan telah berhasil memperkenalkan dua prinsip pervasif dalam penyusunan percakapan, yaitu:
a.            Prinsip Kooperasi Grice (Grice’s Principle of Cooperatin), dan
b.            Kaidah Kesopanan Lakoff (Lakoff’s Rules of Politeness)
Grice (1975) mengemukakan bahwa percakapan atau konversasi menyesuaikan diri pada empat maksim, yaitu:
1.            Maksim Kuantitas (The Maxim of Quantity)
Berikan jumlah informasi yang tepat, yaitu:
- Sumbangan informasi Anda harus seinformatif yang dibutuhkan.
- Sumbangan informasi Anda jangan melebihi yang dibutuhkan
Di dalam maksim kuantitas, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relative memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan si mitra tutur. Tuturan yang mengandung informasi yang sungguh-sungguh diperlukan mitra tutur, dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam Prinsip Kerja Sama Grice. Demikian sebaliknya, apabila tuturan itu mengandung informasi yang berlebihan akan dapat dikatakan melanggar  maksim kuantitas. Tuturan (1) dan (2) tuturan berikut dapat dipertimbangkan lebih lanjut untuk memperjelas pernyataan ini.
(1)  “Lihat itu Muhammad Ali mau bertanding lagi!”
(2)  “Lihat itu Muhammad Ali yang mantan petinju kelas berat itu mau bertanding lagi!”
Informasi indeksal:
Tuturan 1 dan 2 dituturkan oleh seorang pengagum Muhammad Ali kepada rekannya yang juga mengagumi petinju legendaris itu. Tuturan itu dimunculkan pada waktu mereka bersama-sama melihat salah satu acara tinju di televisi.
Tuturan (1) dalam contoh di atas merupakan tuturan yang sudah jelas dan sangat informatif isinya. Dapat dikatakan demikian, karena tanpa harus ditambah dengan informasi lain, tuturan itu sudah dapat dipahami maksudnya dengan baik dan jelas oleh si mitra tutur. Penambahan informasi seperti ditunjukkan pada tuturan (2) justru akan menyebabkan tuturan menjadi berlebihan dan terlalu panjang. Sesuai dengan yang digariskan maksim ini, tuturan seperti pada (2) di atas tidak mendukung atau bahkan melanggar Prinsip Kerja Sama Grice.
2.            Maksim Kualitas (The Maxim of Quality)
Usahakan agar sumbangan informasi Anda benar, yaitu :
- Jangan mengatakan suatu yang Anda yakini bahwa itu tidak benar.
- Jangan mengatakan suatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.
Dengan maksim kualitas, seorang peserta tutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam bertutur. Fakta itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas. Tuturan (3) dan tuturan (4) pada bagian berikut dapat dipertimbangkan untuk memperjelas pernyataan ini.
(3) “Silakan menyontek saja biar nanti saya mudah menilainya!”
(4) “Jangan menyontek, nilainya bisa E nanti!”
Informasi indeksal:
Tuturan 3 dan 4 dituturkan oleh dosen kepada mahasiswanya di dalam ruang ujian pada saat dia melihat ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha melakukan penyontekan.
Tuturan (4) jelas lebih memungkinkan terjadinya kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Tuturan (3) dikatakan melanggar maksim kualitas karena penutur mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan seharusnya dilakukan seorang dosen. Merupakan suatu kejanggalan apabila di dalam dunia pendidikan terdapat seorang dosen yang mempersilakan para mahasiswanya melakukan penyontekan pada saat ujian berlangsung.
3.            Maksim Relasi atau Relevansi (The Maxim of Relevance)
Usahakan agar perkataan Anda ada relevansinya.
Di dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan mitra tutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama. Sebagai ilustrasi atas pernyataan itu perlu dicermati tuturan (5) berikut.
(5) Sang Hyang Tunggal : “Namun sebelum kau pergi, letakkanlah kata-kataku ini   dalam hati!”
Semar            : “Hamba bersedia, ya Dewa.”
Informasi indeksal:
Tuturan ini dituturkan oleh Sang Hyang Tunggal kepada tokoh Semar dalam sebuah adegan pewayangan.
Cuplikan pertuturan pada (5) di atas dapat dikatakan mematuhi dan menepati maksim relevansi. Dikatakan demikian, karena apabila dicermati lebih mendalam, tuturan yang disampaikan tokoh Semar, yakni “Hamba bersedia, ya Dewa,” benar-benar merupakan tanggapan atas perintah Sang Hyang Tunggal yang dituturkan sebelumnya, yakni “Namun, sebelum kau pergi, letakkanlah kata-kataku ini dalam hati.” Dengan perkataan lain, tuturan itu patuh dengan maksim relevansi dalam Prinsip Kerja Sama Grice. Untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menunjukkan kesantunan tuturan, Ketentuan yang ada pada maksim itu seringkali tidak dipenuhi oleh penutur. Berkenaan dengan hal ini, tuturan (6) antara seorang direktur dengan sekretarisnya pada contoh berikut dapat dipertimbangkan.
(6) Direktur    : “Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani dulu!”
Sekretaris      : “Maaf Bu, kasihan sekali nenek tua itu.”
Informasi indeksal:
Dituturkan oleh seorang Direktur kepada sekretarisnya pada saat mereka bersama-sama bekerja di sebuah ruang kerja Direktur. Pada saat itu, ada seorang nenek tua yang sudah menunggu lama.
Di dalam cuplikan percakapan di atas, tampak dengan jelas bahwa tuturan sang sekretaris, yakni “Maaf Bu, kasihan sekali nenek tua itu” tidak memiliki relevansi dengan apa yang diperintahkan sang Direktur, yakni “Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani!” Dengan demikian tuturan (6) di atas dapat dipakai sebagai salah satu bukti bahwa maksim relevansi dalam prinsip kerja sama tidak selalu dipenuhi dan dipatuhi dalam pertuturan sesungguhnya. Hal seperti itu dapat dilakukan, khususnya, apabila tuturan tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan maksud-maksud tertentu yang khusus sifatnya.
4.            Maksim Cara atau Pelaksanaan (The Maxim of Manner)
Usahakan agar mudah dimengerti, yaitu :
- Hindarilah pernyataan-pernyataan yang samar.
- Hindarilah ketaksaan.
- Usahakan agar ringkas (hindarilah pernyataan-pernyataan yang panjang lebar dan bertele-tele ).
- Usahakan agar Anda berbicara dengan teratur.
Maksim pelaksanaan ini mengharuskan peserta pertuturan bertutur secara langsung, jelas, dan tidak kabur. Orang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal-hal itu dapat dikatakan melanggar Prinsip Kerja Sama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan. Berkenaan dengan itu, tuturan (7) pada contoh berikut dapat digunakan sebagai ilustrasi.
(7)     (+) “Ayo, cepat dibuka!”
          (-) “Sebentar dulu, masih dingin.”
Informasi indeksal:
Dituturkan oleh seorang kakak kepada adik perempuannya. Cuplikan tuturan (7) di atas memiliki kadar kejelasan yang rendah. Karena berkadar kejelasan rendah dengan sendirinya kadar kekaburannya menjadi sangat tinggi. Tuturan si penutur (+) yang berbunyi “Ayo, cepat dibuka!” sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh si mitra tutur. Kata dibuka dalam tuturan di atas mengandung kadar ketaksaan dan kekaburan sangat tinggi. Oleh karenanya, maknanya pun menjadi sangat kabur. Dapat dikatakan demikian, karena kata itu dimungkinkan untuk ditafsirkan bermacam-macam. Demikian pula tuturan yang disampaikan si mitra tutur (-), yakni “Sebentar dulu, masih dingin.” mengandung kadar ketaksaan cukup tinggi. Kata dingin pada tuturan itu dapat mendatangkan banyak kemungkinan persepsi penafsiran karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa sebenarnya yang masih dingin itu. Tuturan-tuturan demikian itu dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan dalam Prinsip Kerja Sama Grice.
Keempat maksim di atas termasuk ke dalam prinsip kooperatif atau prinsip kerja sama dan terdapat pula enam maksim yang termasuk prinsip kesopanan, yaitu:
1.            Maksim kebijaksanaan       : kurangilah kerugian dan perbesarlah keuntungan orang lain.
Tuan rumah              :  “Silakan makan saja dulu, nak! Tadi kami sudah mendahului.”
Tamu                           :  “Wah, saya jadi tidak enak, Bu.”
Di dalam tuturan tersebut, tampak dengan sangat jelas bahwa apa yang dituturkan si Tuan Rumah sungguh memaksimalkan keuntungan sang Tamu.
2.            Maksim kedermawanan     : kurangilah keuntungan dan perbesarlah pengorbanan diri sendiri.
Anak kos A              : “Mari saya cucikan baju kotormu. Pakaianku tidak banyak kok yang kotor”
Anak kos B              : “Tidak usah, mbak. Nanti siang saya akan mencuci juga kok.”
Dari tuturan tersebut, dapat dilihat dengan jelas bahwa Anak kos A berusaha memaksimalkan keuntungan pihak lain dengan cara menambahkan beban bagi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan cara menawarkan bantuan untuk mencucikan pakaian kotornya si B
3.            Maksim penghargaan                     : kurangi cacian dan tambahi pujian atau penghargaan kepada orang lain.
Dosen A            : “Pak, aku tadi sudah memulai kuliah perdana untuk kelas Business English.”
Dosen B            : “Oya, tadi aku mendengar Bahasa Inggrismu bagus sekali.”
Pemberitahuan yang disampaikan dosen A terhadap rekan dosennya pada contoh di atas ditanggapi dengan sangat baik bahkan disertai dengan pujian dari dosen B.
4.            Maksim kesederhanaan     : kurangi pujian dan tambahilah cacian kepada diri sendiri.
Ibu A           : “Nanti ibu yang memberikan sambutan dalam rapat Dasa Wisma ya.”
Ibu B            : ” Waduh..nanti grogi aku.”
Dalam contoh di atas ibu B tidak menjawab dengan: “Oh, tentu saja. Memang itu kelebihan saya.” Ibu B mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri dengan mengatkan: ” Waduh..nanti grogi aku.”
5.            Maksim pemufakatan                      : kurangi ketidaksesuaian dan tingkatkanlah keseseuaian antara diri sendiri dan orang lain.
Guru A               : “Ruangannya gelap ya, Bu.”
Guru B               : “He’eh. Saklarnya mana ya?”
Pada contoh di atas, tampak adanya kecocokan persepsi antara Guru A dan B bahwa ruangan tersebut gelap. Guru B mengiyakan pernyataan Guru A bahwa ruangan gelap dan kemudian mencari saklar yang member makna perlu menyalakan lampu agar ruangan menjadi terang.
6.            Maksim simpati                     : kurangi antipati dan perbesar simpati antara diri sendiri dan orang lain.
Mahasiswa A  : “Mas, aku akan ujian tesis minggu depan.”
Mahasiswa B   : “Wah, selamat ya. Semoga sukses.”
Lakoff (1972) menyatakan tiga ketentuan untuk dapat dipenuhinya kesantunan di dalam kegiatan bertutur Skala yang harus ditaati agar tuturan itu lebih santun, antara lain:
1.            Skala Formalitas
Skala formalitas berarti jangan memaksa atau jangan angkuh. Konsekuensi Skala ini adalah bahwa tuturan yang memaksa dan angkuh adalah tuturan yang tidak atau kurang santun.
Contoh :
a. “Cepat bawa bukunya kemari, lama sekali!”
b. “Maaf, pintunya dibuka saja agar udaranya dapat masuk!”
Tuturan yang pertama bukan merupakan Skala formalitas karena tuturan tersebut tidak santun dan angkuh. Sedangkan tuturan yang kedua merupakan Skala formalitas karena pada tuturan kedua penutur menuturkan tuturan tersebut dengan santun dan menggunakan kata maaf pada saat menuturkan tuturan tersebut.
2.            Skala Ketidaktegasan
Skala ketidaktegasan berisi saran bahwa penutur hendaknya bertutur sedemikian rupa sehingga mitra tuturnya dapat menentukan pilihan.
Contoh :
a. “Jika Anda tidak keberatan dan tidak sibuk, saya harap Anda bisa datang dalam acara peresmian gedung nanti sore!”
b. “Jika ada waktu dan tidak mengganggu, pergilah ke kantor mengambil surat yang tertinggal!”
Kedua tuturan di atas merupakan tuturan yang termasuk dalam Skala ketidaktegasan karena tuturan di atas adalah tuturan yang santun dan memberikan pilihan kepada mitra tuturnya untuk melakukannya atau tidak.
3.            Skala Persamaan atau Kesekawanan
Makna Skala ini adalah bahwa penutur hendaknya bertindak seolah-olah mitra tuturnya itu sama, atau dengan kata lain buatlah mitra tutur merasa senang.
Contoh:
a. “Tulisanmu rapi sekali, hampir sama seperti tulisanku.”
b. “Tarianmu tadi sungguh memukau.”
c. “Mengapa nilai sastramu tetap jelek?”
Tuturan pertama dan kedua di atas merupakan tuturan yang memenuhi Skala persamaan atau kesekawanan karena dalam tuturannya, penutur membuat mitra tutur merasa senang. Sedangkan, tuturan ketiga sebaliknya karena membuat mitra tuturnya tidak merasa senang.

2.7.         Komponen Percakapan
Pengelolaan percakapan yaitu bagaimana caranya suatu pembicara dibuka, diteruskan dan akhirnya ditutup. Seperti juga hal lainnya maka percakapan mempunyai awal, tengah dan akhir.
Pembukaan menurut Goffmann (1976:266) kita membuka (dan menutup) percakapan dengan suatu “repertoire pertukaran-pertukaran ritual tertentu yang jelas tergantung pada batasan kultural dan dapat diharapkan agak berbeda dari masyarakat ke masyarakat”. Pendapat yang mengatakan bahwa pembukaan dan penutupan dituturkan oleh pertukaran-pertukaran “ritual” mengingatkan kita pada beberapa pakar sosiologi bahasa mengidentifikasi suatu kelas formula verbal yang mereka sebut phatic communion. Menurut Laver, phatic communion bersifat indexical dan deictic.
Beberapa telaah anakon mengenai pembukaan percakapan dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman telah dilaksanakan pada Universitas Bochum. Dalam penelitian ini terdapat fakta akan adanya perbedaan dalam penstrukturan pembukaan-percakapan dalam kedua bahasa yang serumpun ini. Pola pertukaran khususnya dalam pembukaan adalah a) atau b) dalam bahasa Inggris tetapi c) atau d) dalam bahasa Jerman.
Bahasa Inggris:
a)            X: Greeting
Y: Greeting + Enquiry after X’s health
X: Answer enquiry + Enquiry after Y’s health
b)            X: Greeting
Y: Greeting
X: Enquiry after Y’s health
Y: Answer enquiry + Enquiry after X’s health

         Bahasa Jerman:
a)            X: Greeting
Y: Greeting + Enquiry after X’s health
X: Answer enquiry
b)            X: Greeting + Enquiry after Y’s health
Y: Greeting + Answer enquiry
Kalau kita perhatikan benar-benar tiap-tiap pertukaran pembicaraan dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman pada contoh-contoh di atas, maka terlihat adanya beberapa “kontras utama”, antara lain:
(i)            Pembukaan merupakan suatu pertukaran khas yang terdiri dari 3-4 giliran dalam bahasa Inggris dan 2-3 giliran dalam bahasa Jerman.
(ii)          Orang Jerman mungkin saja membuang resiprokasi pertanyaan mengenai kesehatan: baik dalam c) maupun dalam d) tidak terlihat adanya resiprokasi (saling bertanya) seperti itu.
Dapat dijelaskan bahwa orang Jerman memandang pertanyaan mengenai kesehatan ini tidak lebih dari suatu salam basa basi, semcam etiket yang hanya perlu ditanya sekali oleh seorang pembicara.
Contoh percakapan pembuka bahasa Indonesia:
            A: Selamat pagi! Apa kabar?
            B:  Selamat pagi! Kabar baik dan anda?
            A: Baik-baik saja!
            B: Sama-sama kalau begitu! Syukurlah!
            A: Terima kasih, puji Tuhan!
            B: Amin....
Penutupan, seperti dalam batasan yang telah kita kemukakan di muka, maka phatic communion pun dipakai untuk mengakhiri percakapan secara sopan. Konversi atau percakapan yang diakhiri tanpa phatic communion tidak akan mudah melanjutkannya pada beberapa peristiwa mendatang. Fungsi penutupan yang sopan adalah untuk menjamin kemudahan pembukaan lagi. Laver memperkenalkan enam strategi yang digunakan dalam penutupan:
a)            Memberi alasan untuk mengakhiri pertemuan. Cara ini kalau memang bersifat indeksikal dapat berupa swa-orientasi ataupun orientasi lain.
Yah saya tidak dapat menahan anda lebih lama lagi.
Demikianlah kata sepakat telah kita capai.
b)            Menilai mutu pertemuan. Agaknya seseorang dapat membuat penilaian yang baik ataupun yang kritis:
Senang sekali bertemu dan berbicara dengan anda.
Yah, saya kira tidak ada titik pertemuan di antara kita.
c)            Memperlihatkan perhatian pada kesejahteraan orang lain apabila kita tidak akan lebih lama lagi bersama dia
Nah, hati-hati nanti di jalan
Baik-baik di perjalanan, ya
d)            Mengacu kepada kelanjutan pertemuan yang akan datang. Beberapa bahasa mempunyi bentuk-bentuk tetap “ucapan selamat” yang mengacu pada pertemuan-pertemuan yang akan datang:
Sampai berjumpa lagi
See you next week
e)            Mengacu kepada kenalan satu sama lain dan kenalan tersebut lebih dekat pada sang penyimak ketimbang pada sang pembicara.
Sampaikan salam saya pada Maria (istri sang penyimak)
Salam sayang pada anak-anak ya
f)             Meningkatkan penggunaan “terms of direct address” ini mempunyai efek terhadap penentraman hati si alamat, agar dia tidak menafsirkan keinginan seseorang untuk mengakhiri percakapan itu sebagai suatu penolakan. Dalam beberapa hal ini merupakan kompensasi saja. Hal ini juga menyatakan kepada yang bersangkutan bahwa seseorang tidak memandangnya remeh pada tingkat pribadi.
















BAB III
PENUTUP

3.1         Simpulan
Makrolinguistik adalah sejenis linguistik yang bertugas menelaan atau mengkaji “tuturan berdasarkan situasi” atau dengan istilah “situated speech”. Hymes dalam Tarigan (1989: 151) memperkenalkan enam variabel dalam menggolongkan setiap peristiwa tuturan tertentu yaitu latar, partisipan, maksud, nada, isi dan saluran.
Ada tiga ciri pokok makrolinguistik yaitu perhatian pada kompetensi komunikatif, pemerian berdasarkan latar ekstra linguistik, unitnya lebih besar daripada kalimat tunggal. Ada tujuh standard tesktualitas yaitu kohesi, koherensi, intersionalitas, akseptualitas, informativitas, situasionalitas, intertekstualitas.
Ada empat sarana gramatikal kohesi tekstual yaitu referensi, substitusi, elipsis, konjungsi dan ada empat sarana leksikal kohesi tekstual yaitu repitisi, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, ekuivalensi.
Analisis teks kontrastif terdiri dari karakterisasi tekstual, tipologi teks dan teks terjemahan. Dalam analisis kontrastif makrolinguistik juga dibahas mengenai analisis wacana, interaksi percakapan dan komponen percakapan.

3.2         Saran
Sebagai seseorang guru atau pengajar bahasa sudah sepantasnya mengetahui analisis kontrastif makrolinguistik. Diharapkan setiap pengajar bahasa dapat memahami penjelasan yang dipaparkan dalam makalah ini. Makalah ini masih membutuhkan masukan serta saran yang membangun agar dapat lebih bermanfaat lagi di masa yang akan datang.




DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 1989. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan.

Untuk melihat video presentasinya, klik di sini!

Kontributor: Arista Mayang Sari, Nugraha Sinaga dan Nur Adibatul Lutfyyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cakupan Linguistik Dengan Pendekatan Struktural dan Fungsional

BAB I PENDAHULUAN A.        Dasar Pemikiran Kalau kita mendengar kata linguistik, biasanya yang terlintas di benak kita adalah kata bahasa, dan memang benar linguistik seperti yang dikatakan oleh Martinet (1987:19) [1] , telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Bahasa adalah objek utama yang dibahas  pada kajian linguistik. Bahasa sebagai objek kajian linguistik bisa kita bandingkan dengan peristiwa-peristiwa alam yang menjadi objek kajian ilmu fisika; atau dengan berbagai penyakit dan cara pengobatannya yang menjadi objek kajian ilmu kedokteran; atau dengan gejala-gejala sosial dalam masyarakat yang menjadai objek kajian sosiologi. Perbandingan ini akan dibahas juga pada pembahasan selanjutnya. Meskipun dalam dunia keilmuan ternyata yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya bukan hanya linguistik, tetapi linguistik tetap merupakan ilmu yang memperlakukan bahasa sebagai bahasa, sedangkan ilmu lain tidak demikian. Kata linguistik (yang...

Dasar-Dasar Psikologis Dalam Analisis Kontrastif

BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang James menyatakan bahwa analisis kontrastif atau yang disingkat dengan Anakon bersifat hybrid atau berkembang. Anakon adalah suatu upaya linguistik yang bertujuan untuk menghasilkan dua tipologi yang bernilai terbalik dan berlandaskan asumsi bahwa bahasa-bahasa dapat dibandingkan. [1] Hakikat dan posisi anakon dalam ranah linguistik yaitu: pertama, anakon berada di antara dua kutub generalis dan partikularis. Kedua, anakon menaruh perhatian dan tertarik kepada keistimewaan bahasa dan perbandingannya. Ketiga, anakon bukan merupakan suatu klasifikasi rumpun bahasa dan faktor kesejarahan bahasa-bahasa lainnya serta anakon tidak mempelajari gejala-gejala bahasa statis yang menjadi bahasan linguistik sinkronis. Ellis membagi anakon menjadi dua aspek yaitu: aspek linguistik dan aspek psikologis. [2] Dalam ranah linguistik terdapat suatu cabang yang disebut telaah antarbahasa. Cabang lingistik ini tertarik kepada kemunculan bahasa...

Ontologi, Metafisika, Asumsi, Peluang

BAB I PENDAHULUAN 1.                   Latar Belakang Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta, untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya, sedangkan proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas. Adapun beberapa cakupan ontologi adalah Metafisika, Asumsi, Peluang, beberapa asumsi dalam ilmu, dan batasan-batasan penjelajah ilmu. Membahas ilmu pengetahuan, sangat erat kaitannya dengan metafisika. Metafisika merupakan sebuah ilmu, yakni suatu pencarian dengan daya intelek yang bersifat sistematis atas data pengalaman yang ada. Metafisiska sebagai ilmu yang mempunyai objeknya tersendiri, hal inilah yang membedakannya dari pendekatan rasional yang lain. Setiap manusia yang baru dilahirkan ...